Selasa, 14 Oktober 2008

Sakaratul Maut, Siapkah kita untuk menghadapinya ?

"Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar."
”niscaya kamu akan merasa sangat ngeri” (QS. Al-Anfal {8} : 50).
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu !"

Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al- An'am : 93).
Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Alloh, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar.

Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.

"Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang". (H.R. Ibnu Abu Dunya).

Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Alloh Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Alloh Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.


"Assalamu'alaikum, yaa Nabi Alloh". Salam Malaikat Izrail, "Wa'alaikum salam wa rahmatulloh". Jawab Nabi Idris a.s.
Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail. Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun ditolak oleh Malaikat Izrail.
Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya "menghadap". Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.
Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan "tamunya" itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan.
"Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita". pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).
"Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)" kata Nabi Idris a.s. "Kenapa ?" Malaikat Izrail pura-pura terkejut. "Buah-buahan ini bukan milik kita". Ungkap Nabi Idris a.s. Kemudian
Beliau berkata: "Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda
menginginkan makanan yang haram". Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan ? pikir Nabi Idris a.s. “Siapakah engkau sebenarnya ?" tanya Nabi Idris a.s. "Aku Malaikat Izrail". Jawab Malaikat Izrail. Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya. "Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?" selidik Nabi Idris a.s serius. "Tidak" Senyum Malaikat Izrail penuh hormat. "Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah kepadamu". Jawab Malaikat Izrail. Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam. "Aku punya keinginan kepadamu". Tutur Nabi Idris a.s "Apa itu ? katakanlah !". Jawab Malaikat Izrail. "Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku". Pinta Nabi Idris a.s. "Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya", tolak Malaikat
Izrail. Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat. Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Alloh mengabulkan permohonannya.
Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali. "Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?" Tanya Malaikat Izrail. "Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Jawab Nabi Idris a.s. "Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat Izrail.
MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s. Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ?
Siapkah kita untuk menghadapinya ?

"sebarkanlah walau hanya satu ayat"
QS.Thaha [20] : 14
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku."

Dua Ribu Rupiah…

Ada hal 'ajaib' yang menyebabkan saya langsung menyalakan komputer begitu sampai rumah. Adrenalin saya terpacu cepat untuk segera 'memuntahkan' kejadian malam ini melalui ketukan jari-jari saya diatas tuts keyboard komputer.

Hari ini saya menerima undangan makan malam dari seorang kawan untuk merayakan ulang tahunnya. Tadi, sekitar ½ 7 malam, saya dijemput oleh kawan yang sedang berulang tahun tersebut bersama 4 orang kawan lainnya. Rencana telah dibuat, kawan saya telah memesan sebuah restoran di kawasan Senayan, setelah selesai makan, kami akan mampir ke Roti Bakar Eddy, menemui beberapa kawan lainnya, baru di lanjutkan dengan ber-karaoke hingga lelah di daerah Kemang, untuk yang terakhir ini saya telah memberitahu dari awal bahwa saya tidak akan ikut!

Untuk merangsang rasa lapar yang lebih, begitu tiba di kawasan Senayan, kami tidak langsung menuju Hilton, kami windows-shopping dulu di Plaza Senayan -hal yang jamak dilakukan ketika perempuan berkumpul-. Saya sendiri adalah orang yang cukup malas untuk sekedar 'liat-liat', bagi saya, Mal berguna untuk belanja dan makan. Hanya buang waktu, energi dan biaya serta bikin kepengen kalau ke Mal dihabiskan untuk sekedar 'liat-liat' dan hanging-out. Tapi rasanya itu hanya apologi, karena mungkin perasaan tersebut terbentuk mengingat kondisi keuangan saya yang tidak memungkinkan, beda halnya dengan beberapa kawan saya yang terhitung high-class, mungkin akan ada perasaan yang berbeda ketika saya berada dalam posisi high-class seperti beberapa kawan saya yang lain.

Tapi, mari kita tinggalkan soal 'liat-liat', hanging-out dan high-class tersebut, mari kembali ke makan malam, yang memang menjadi inti dari cerita saya ini. Setelah masuk counter satu ke counter lain selama hampir 1 jam, dan rasa lapar mulai menjelajah di perut kami, akhirnya kami
meninggalkan Plaza Senayan, kemudian menuju ke Hilton.

Hilton, hotel mewah bintang lima di kawasan Senayan, yang biasa digunakan oleh Event Organizer sebagai akomodasi untuk artis luar negeri yang mereka undang ke Indonesia, penginapan yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia untuk menjamu delegasi dari negara lain, atau tempat kaum borjuis yang memang ingin menghabiskan waktunya dengan berbagai
alasan. Hilton, hotel yang beberapa kali saya datangi, tapi tidak pernah terlintas di pikiran
untuk makan di restoran Hilton, karena harganya yang FANTASTIS, apalagi untuk menginap (for what gitu lhoh. Saya kan tinggal di Jakarta!). Tapi malam ini, saya yang tergolong proletar, menghabiskan makan malam di Hilton!

Malam ini akhirnya saya dapat mempraktikkan ilmu table manner yang pernah saya ikuti. Makanan ala eropa yang memiliki tahapan penyajian dari appetizer, main menu, hingga dessert ini membuat saya sedikit berpikir. Sesusah inikah makan bagi kaum borjuis? Banyak aturan
baku yang berlaku, padahal hanya untuk sekedar makan! Thanks God, malam ini, saya makan
bersama kawan-kawan sendiri, jadi batasan baku yang dibuat sedemikian rupa dalam nama table manner itu, praktis tidak berlaku.

Makan malam 'seru' yang disertai obrolan seru –girls talk!- tersebut selesai kurang lebih pukul ½ 10 malam, tiba saatnya membayar. Walaupun saya di traktir, entah kenapa otak ekonomis saya
selalu berjalan untuk menghitung-hitung berapa banyak uang yang kawan saya akan keluarkan.
Karena kami ber-enam, dengan menu komplit khas Eropa dan minimnya pengetahuan harga makanan di tempat seperti itu, saya perkirakan, kawan saya akan mengeluarkan uang sedikitnya 600 ribu.

And when the bill came.. GILA!!!! Jauh di luar perhitungan saya, angka yang tertulis di tagihan tersebut sebesar.. Coba, kalau Anda membaca tulisan ini dan rajin menghitung, tebak berapa biaya yang dibayar kawan saya itu! Bisa menebaknya??? 600? 700? 800? 900? 1 juta kah???
Ayo anak-anak, kumpulkan! Tapi sudahlah, agar Anda sekalian tidak usah pusing menghitung biaya makan yang tidak Anda makan itu, maka dengan sukarela saya memberitahu biaya makan malam ini. Dua juta enam ratus tiga puluh lima ribu rupiah!!!! SINTING!!!! Sekedar untuk makan!

Dengan sedikit malu, saya mencuri lihat ke kawan saya yang akan membayarnya. Tidak ada perubahan di raut mukanya. Dengan tenangnya dia mengambil kartu kredit yang ada di dompetnya kemudian memberikan kepada si pelayan.

Tiba-tiba kepala saya sedikit pening, dan PLAK!!! Saya memukul sendiri kening saya yang malam ini ditutupi kerudung berwarna pastel. Dalam hitungan detik, saya bergegas ke toilet, saya sempat melihat mimik heran dari kawan-kawan saya, namun saya tidak terlalu mempedulikan, yang saya pikirkan hanya menuju ke toilet. Dan.. Huek, huek, huek... bak seorang penderita anorexia, saya memuntahkan makanan yang malam ini saya santap. Bukan, bukan karena saya penderita anorexia, pun karena bukan makanan yang telah sampai ke perut saya ini tidak enak!

Namun, saat kawan saya memberikan kartu kreditnya, entah kenapa, perut saya menjadi mual, bersamaan dengan otak kanan saya yang secara otomatis membuka kejadian beberapa hari lalu di Stasiun Manggarai. Kejadian –yang pada saat itu begitu menyentuh hati dan pikiran saya.

Siang itu, setelah selesai memberikan les privat di kawasan bukit duri, saya ke Stasiun Manggarai untuk menuju ke kampus saya yang terletak di daerah Depok. Setelah saya membeli tiket, saya menunggu di peron tujuan Bogor sambil membaca Supernova terbaru dari Dee. Belum
begitu lama saya menekuri buku -yang bagi saya ternyata tidak terlalu menarik- itu, saya terganggu oleh suara kumpulan orang yang bergerombol di sisi lain stasiun, entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu, saya pun turut ke kumpulan orang-orang tersebut.

Innalillah... ada dua orang anak kecil yang terkapar lemas dengan mulut berbusa. Di samping mereka, ada seorang perempuan setengah baya, yang ternyata adalah ibu dari kedua anak tersebut. Ibu itu hanya menangis berteriak "Astaghfirulloh, Alloh.. Alloh..., anak ku, anak ku..."
berulang-ulang. Beberapa orang berusaha menenangkan ibu tersebut, sedang yang lainnya sibuk memeriksa kondisi dua anaknya.

Saya kembali ke tempat duduk saya dengan kumpulan pertanyaan dan berbagai kemungkinan jawaban. Belum sempat saya menyelesaikan pertanyaan dan jawaban dari hati ini, seorang ibu penjual pecel & mie goreng di samping tempat duduk saya berkata kepada orang-orang
disekitarnya, "Gue kirain tuh anak bo'ongan kagak punya duit, eh, tau-taunya tuh anak dua malah minum baygon. Tau gitu, gue kasih gratis deh nih mie, kagak usah bayar! Gue jadi
ngerasa dosa ini mah!". Lalu ada tukang buah yang menimpali, "Makanya, jangan pelit-pelit luh! Pan kita sama-sama orang susah. Tau nggak luh? Katanya tuh bocah dua bunuh diri minum baygon saking lapernya, mending mati kali daripada laper!". "Lah, mana gue tau klo tuh
anak nggak bo'ong. Nah elu tau ndiri disini banyak yang ngaku-ngaku belon makan, klo tiap
orang yang ngaku laper gue kasih gratisan, bangkrut dong gue!", bela si ibu. Dengan seksama saya ikuti percakapan si tukang buah dan ibu penjual mie yang memakai bahasa betawi pinggiran tersebut.

Ternyata, dua orang anak yang mencoba bunuh diri itu sebelumnya datang ke ibu penjual mie. Mereka hanya punya uang 300 rupiah, dan mengaku bahwa dari kemarin sore mereka belum makan nasi. Mereka meminta kepada si ibu penjual mie, agar dapat di berikan nasi dan mie dengan uang 300 rupiah. Namun, penjual mie tersebut bilang, mie dan nasi itu harganya dua ribu, mereka disuruh kembali ke dia, jika punya uang dua ribu rupiah.

Dua ribu rupiah, separuh harga dari ongkos Tanjung Priok - Depok.
Dua ribu rupiah, separuh harga untuk setiap jam nya dari rental internet yang hampir setiap hari dalam waktu berjam-jam saya lakukan.
Dua ribu rupiah, harga 1 botol air mineral, yang dalam sehari bisa saya konsumsi minimal 2
botol.
Dua ribu rupiah, harga 2 buah batere untuk Diskman yang biasa menemani aktivitas saya.
Dua ribu rupiah, 1/12 dari harga voucher 20 ribu yang biasa saya isi ulang 2 minggu sekali.
Dua ribu rupiah, 1/70 dari harga sepatu yang baru saya beli.
Dua ribu rupiah, 1/200 harga makanan untuk satu porsinya dari makanan yang baru saja
mengisi perut saya.
Dua ribu rupiah,1/1317 yang kawan saya bayarkan dari makanan yang baru saja kami konsumsi ber-enam!
Dua ribu rupiah. Yang menyebabkan dua orang anak memilih untuk meminum obat serangga, daripada menahan rasa lapar! Huek, huek, huek!!!

Saya kembali ke meja tempat kami makan. Dengan alasan tidak enak badan, saya minta ijin untuk pulang duluan. Jelas kawan-kawan saya heran, karena dari berangkat hingga makan tadi, saya dalam kondisi yang sangat baik. Tapi saya tidak terlalu memperdulikan keheranan mereka, yang saya pikirkan hanya cepat-cepat keluar dari tempat yang membuat saya semakin mual. Mengetahui bahwa kawan saya telah memiliki rencana dari Hilton ini, maka saya menolak untuk diantar, dengan dalih saya akan menggunakan taksi. Tanpa menunggu lama, saya cepat-cepat pamit dan keluar dari tempat itu. Di pintu utama, saya menunggu taksi yang telah di panggil oleh office boy, tapi begitu taksi tiba, saya mengurungkan niat untuk menggunakan taksi tersebut, saya memilih untuk berjalan kaki ke tempat menunggu bis.

Ketika, saya tiba di rumah, saya langsung menuju ke toilet (lagi!), dan huek-huek-huek.. Saya mencoba memuntahkan makanan, yang kalau-kalau masih tersisa di perut ini.

Masya Alloh... Saya merasa begitu hina, karena sering menganggap remeh uang dua ribu rupih. Saya merasa begitu bodoh, karena terlalu gampang menghamburkan uang dua ribu rupiah. Saya merasa begitu dungu, karena hampir saja melakukan kebodohan kembali dengan menggunakan taksi yang argonya mungkin hampir 10 kali lipat dari dua ribu rupiah. Saya merasa sangat berdosa, karena telah mengkonsumsi makanan 200 kali lipat dari dua ribu rupiah. Saya merasa... Aaaaahhh. Sayangnya saya hanya merasa..

Ayam dan Bebek

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: "Kuek! Kuek!"

"Dengar," kata si istri, "Itu pasti suara ayam."

"Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si suami.

"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.

"Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!', bebek itu 'kuek! kuek!' Itu bebek, Sayang," kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

"Kuek! Kuek!" terdengar lagi.

"Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.

"Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.

"Dengar ya! Itu a… da… lah… be… bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si suami berkata dengan gusar.

"Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras.

"Itu jelas-jelas bue… bek, kamu… kamu…."

Terdengar lagi suara, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.

Si istri sudah hampir menangis, "Tapi itu ayam…."

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok."

"Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

"Kuek! Kuek!" terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah: siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek"?

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

Kamis, 11 September 2008

Langkah Menuju Keberhasilan

Keberhasilan. Sebuah kata besar yang seringkali hanya berada dalam pikiran kita saja. Keberhasilan tampaknya masih merupakan kata besar yang mengandung kesulitan besar pula. Namun siapa sangka jika keberhasilan yang awalnya hanya berada dalam dunia maya itu bisa menjadi nyata?
Setiap orang di dunia ini pastilah ingin berhasil dalam hidupnya. Keberhasilan mempunyai batas yang relatif, tidak sama untuk semua orang. Keberhasilan menurut si A mungkin berbeda dalam pandangan si B. Keberhasilan yang dicapai oleh A mungkin dipandang sebagai hal yang belum berhasil menurut B. Begitulah kerelatifan dari keberhasilan. Hal ini terkait erat dengan cita-cita besar yang ingin dicapai dalam hidupnya.
Apakah menjadi sarjana merupakan keberhasilan? Ya, menurut sebagian orang. Tetapi menurut orang yang lain menjadi sarjana mungkin hanya sebuah langkah menuju keberhasilan. Mempunyai anak yang rajin dan patuh mungkin merupakan suatu keberhasilan bagi seorang ibu yang mengabdikan diri kepada keluarga untuk mendidik anaknya. Bagi orang lain, mungkin hal tersebut tidak berarti apa-apa. Singkat kata, inilah yang dimaksud bahwa keberhasilan merupakan hal yang relatif. Dan kita tidak bisa mengukur keberhasilan yang akan kita capai berdasarkan cita-cita orang lain.

Pernah suatu ketika seorang mahasiswaku curhat, menumpahkan semua keluhannya terutama tentang tugas kuliah yang menurutnya sangat berat. Saat itu sempat kutanya satu kalimat,
“Kamu ingin berhasil kan? Ingin lulus tepat waktu dengan hasil yang maksimal?”
Dia menjawab, “Tentu saja dong bu! Tapi bagaimana saya bisa berhasil jika tugas kuliah sebanyak ini?”
Sambil tersenyum dan memandang matanya, mulailah aku bercerita, “Kamu ingin menjadi arsitek yang baik kan? Semua tugas yang diberikan dosen itu tidak lain adalah salah satu cara untuk membuat kamu lebih mudah memahami materi. Saya tahu, pastilah kendala utama adalah waktu untuk mengerjakannya,”
Dia masih menyimak penjelasanku sampai setengah jam berikutnya. Aku tahu, pasti akan ada perdebatan panjang jika kuteruskan menjawab pertanyaannya. Aku hanya mencoba memahami permasalahan dan bersama-sama mencari solusi dari permasalahan yang sedang dialaminya. Kujelaskan perlahan, mulai dari mengapa dosen memberikan tugas kepadanya, apa tujuannya, sampai pada cerita tentang teman-teman yang berhasil dengan tugas yang sama. Akhirnya kami secara bersama-sama menemukan permasalahan inti yang sedang dihadapinya.
Permasalahan utamanya adalah memenej waktu dan pekerjaan. Hampir semua mahasiswa arsitek (termasuk aku ketika kuliah dahulu) mengalaminya. Tetapi ketika kita sudah sadar akan masalah utama yang menghadang keberhasilan, berarti kita sudah maju satu langkah. Setelah permasalahan ditemukan, langkah yang diambil adalah mencari solusi dari permasalahan tersebut. Solusi yang diambil bisa saja tepat atau tidak tepat. Karena itulah dibutuhkan strategi pemilihan solusi.
“Dulu waktu ibu kuliah, suka lembur-lembur sampai pagi juga nggak?” sebuah pertanyaan dilontarkan padaku ketika kami sedang membahas solusi penyelesaian tugas tersebut.
“Tahun-tahun awal kuliah, ya. Saya lembur. Sangat sering sampai adzan subuh berkumandang. Tetapi lama kelamaan tidak lagi. Karena sebenarnya ketika kita maksimalkan waktu yang ada, kita tidak perlu lembur lagi kok,” begitu jawabku saat itu.
Mereka memandangku tidak percaya. Aku yakin, pastilah mereka sempat memikirkan apa yang dahulu kupikirkan. Bagaimana caranya supaya pekerjaan selesai tepat waktu tanpa lembur sampai pagi?
Kujelaskan trik yang kulakukan saat kuliah dahulu. Pertama, ketika dosen memberikan tugas, baik paper atau gambar, langsung saja cari di perpustakaan buku atau pustaka yang mendukung. Apabila ada uang, fotokopi bagian yang penting. Jika tidak ada, catat dan ingat-ingat dengan baik. Kemudian, mulailah kerjakan satu demi satu tugas tersebut. Jangan menunggu ketika deadline sudah dekat. Kerjakan secara perlahan-lahan dengan memperhatikan waktu di sela-sela kuliah yang ada. Kerjakan tugas di mana saja, di perpustakaan atau di studio.
Kemudian, rajin-rajinlah asistensi dengan dosen/asisten. Karena saat asistensi itulah banyak ilmu yang bisa kita ambil. Jangan takut jika ternyata pekerjaan kita salah. Bukankah dengan mengetahui pekerjaan kita salah di awal berarti kita sudah maju satu langkah lagi? Bayangkan saja jika kita tahu pekerjaan kita salah pada saat beberapa hari menjelang deadline. Tentu saja kita tidak akan bisa mengerjakannya dengan tenang.
Untuk bisa sering-sering asistensi, tentu saja kita harus mengerjakan pekerjaan kita dengan rutin. Dan satu hal yang harus dicatat jika kita ingin meraih keberhasilan, jangan menunggu mood itu datang, tetapi usahakanlah mood itu selalu datang. Jangan tunda pekerjaan hanya karena saat itu kita sedang tidak mood. Lebih baik mengerjakannya dengan perlahan tetapi kontinu daripada terburu-buru dalam waktu yang singkat. Hal yang tidak boleh ditinggal dan harus selalu diingat adalah tetap berdoa minta pertolongan pada Allah dan juga menjaga kesehatan badan.
Perencanaan juga merupakan hal penting yang mendukung keberhasilan kita. Perencanaan yang matang memang bukan penentu keberhasilan, tetapi merupakan sebuah langkah untuk mempermudah terwujudnya keberhasilan. Dan jangan takut gagal ketika ingin berhasil. Mungkin saja kegagalan itu merupakan suatu tahapan yang harus kita lalui untuk mencapai keberhasilan.
Nah, apabila semua langkah tersebut sudah dilakukan, maka kita hanya bisa melakukan satu hal. Pasrah, tawakkal. Serahkan semua kepada Allah. Karena hanya Dia-lah yang paling tahu apa hal terbaik yang terjadi pada diri kita. Apapun yang akan kita dapat nantinya sebagai hasil dari pekerjaan kita, harus kita terima dengan hati lapang. yang penting kita sudah usahakan secara maksimal. Masalah hasil akhir adalah urusan Allah.
Kalaupun hasilnya ternyata masih belum memuaskan menurut kita, jangan menyesal, tetap terima hasil itu karena kita sudah berusaha maka itu hal terbaik yang pantas kita terima dan mungkin memang baru seukuran itu kemampuan kita. Sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Dan sesuatu yang menurut kita tidak baik, belum tentu tidak baik juga menurut Allah.
Tetapi jangan lupa untuk introspeksi diri, apakah keberhasilan yang ingin kita raih itu berada dalam batas kemampuan kita dan usaha kita sudah mengarah ke sana? Jangan-jangan kita hanya ingin berhasil tapi kita tidak berusaha secara maksimal? Ibaratnya secara realistis jika ingin menjadi pengusaha, kita harus memulai dari bawah dengan usaha yang tidak minim. Apakah menjadi pengusaha bisa terwujud begitu saja dengan ongkang-ongkang kaki? Tentu saja tidak.
Bukankah sebenarnya kita bisa dengan mudah meraih keberhasilan itu? Keberhasilan merupakan kombinasi dari dua aspek, usaha dan doa. Usaha dan doa disertai dengan perencanaan matang dan semangat tinggi insyaAllah bisa mengantarkan kita menuju keberhasilan yang ingin kita raih. Dan kalaupun dengan cara tersebut kita belum berhasil, yakinlah itu yang terbaik untuk kita. Bangkit, berusaha dan berdoalah lagi. Karena selama kita masih hidup, berarti masih ada kemungkinan untuk meraih keberhasilan tersebut.
Jakarta, akhir mei 2005
Anisa Kuffa

" Menolong? ... Knapa ngga... Siapa Takut.. "

Seringkali saya melihat seorang pemuda dengan sabar menyeberangkan
seorang tunanetra, tangannya erat menuntun agar terhindar dari
kecelakaan. Di lain tempat, pemuda lainnya memanfaatkan dua tangan
kuatnya untuk membantu seorang ibu menjinjing barang belanjaan. Bukan,
ia bukan kuli angkut di pasar yang biasa menjual tenaganya. Tapi ini
benar-benar seorang pemuda yang dengan ikhlas membantu tanpa pamrih.
Sementara itu, seorang gadis terlihat sopan mengobati luka seorang
pengendara motor yang terjatuh. Dari dalam mobilnya, ia mengambil kotak
obat, kemudian memberikan pertolongan pertama.

Cukupkah bagi saya hanya sebagai penonton dari aksi yang dilakukan
orang-orang itu? Tentu tidak. Dari hari ke hari semakin banyak
episode-episode kebaikan yang tak henti berlalu lalang di depan mata
ini, semakin terdorong diri ini untuk mengetahui motif apa yang membuat
mereka mau dan rela melakukan itu semua. Nampaknya agak nakal saya
ketika harus bertanya tentang 'motif' mereka, seolah saya meragukan
niat ikhlas mereka dan menggantinya dengan motif kacangan, seperti imbalan
materi, pamer kesalihan atau tebar pesona.

Tapi, tetap saja saya tergelitik untuk terus bertanya, dan maafkan
kalau saya memang terlalu lancang untuk menanyakannya. Bukan berarti selama
ini saya tak pernah menolong orang lain. Sebab katanya, orang Indonesia
itu sangat ramah dan saling tolong menolong. Tapi entah kenapa, saya
lagi-lagi harus bertanya tentang motif kebaikan yang dilakukan orang
lain. Aksi tanya menanya itu berhenti ketika seorang sahabat yang
menjadi 'korban' pertanyaan saya menjawabnya dengan kalimat tegas,
"Berhentilah bertanya, lakukan saja".

Kemudian saya pun tak lagi melulu menjadi penonton. Setiap kali ada
kesempatan untuk menolong tak terbuang sia-sia. Saya upayakan tak
terlewatkan dengan kalimat andalan, "maaf" atau berkilah sambil
berharap orang lain akan membantunya. Saya percaya betul, bahwa kesempatan
berbuat baik itu kadang tak datang dua kali. Sekali terlewati, sudah
itu tak ada lagi. Sekali kita buang kesempatan baik itu, esok tak bertemu
lagi. Tinggallah kita berharap Allah mau memberikan kesempatan kedua
agar kita bisa berbuat baik.

***

Seorang bapak berusia senja memeluk saya erat seolah tak ingin saya
pergi dari hadapannya. "Datanglah ke sini kapan pun, rumah kami selalu
terbuka untuk anda," ujarnya terbata-bata. Isterinya tak henti
menahan-nahan saya agar tetap tinggal, kalau perlu ia mempersilahkan
memilih satu dari beberapa cucunya yang mulai tumbuh dewasa untuk
dipersunting. Aih.

Di lain tempat, seorang ibu tak henti berucap terima kasih hanya karena
lima ribu rupiah yang saya berikan kepadanya. Ia mengaku kehabisan
ongkos untuk kembali ke rumah, sambil menangis ia meminta uang untuk
bisa sampai pulang.

Nampaknya saya tak perlu lagi bertanya kenapa begitu banyak orang mau
menolong sesama. Pertanyaan itu tak lagi menggelitik rasa penasaran
saya, dan telah terhenti. Tak perlu pula ada yang menjawab kenapa orang
tak bosan berbuat kebaikan untuk orang lainnya. Karena saya telah
menemukan sendiri jawaban itu. Ternyata, menolong itu nikmat. Bahkan
bisa dibilang pekerjaan paling nikmat yang pernah saya tahu, saya
kerjakan, dan coba saya jadikan kebiasaan dalam hidup.

Menolong tak selalu berupa materi, tak melulu berbentuk harta. Bisa
Jadi hanya sebuah doa yang tulus jika memang raga tak mampu, harta pun tak
ada. Jika waktu tak ada, namun ada sedikit rezeki, bisalah kita
membantu. Sungguh, berbuat kebaikan terhadap sesama, tak saja nikmat,
tapi juga sebuah investasi dunia akhirat. Percayalah.***

Wasallam,

AGAR CINTA BERSEMI INDAH

Ada banyak alasan manusia yang membuat dasar dari hakikat pernikahan, hakikat yang seperti apakah yang paling membahagiakan? coba kita lihat...dan manakah pilihan kita???
- Jika hakikat pernikahan adalah karena SEX, maka pasangan rajin bertengkar jika servis di kamar tidur tidak memuaskan. Atau rajin hadir di SEX party.
- Jika hakikat pernikahan adalah karena HARTA, maka pasangan bakal bubar jika bangkrut.
- Jika hakikat pernikahan adalah karena BEAUTY/BODY, pasangan bakal lari jika rambut beruban dan muka keriput atau badan jadi gendut.
- Jika hakikat pernikahan adalah karena ANAK, maka pasangan akan cari alasan untuk pergi jika buah hati (anak) tidak hadir.
- Jika hakikat pernikahan adalah karena KEPRIBADIAN, pasangan akan lari jika orang berubah tingkah lakunya.
- Jika hakikat pernikahan adalah karena CINTA, hati manusia itu tidak tetap dan mudah terpikat pada hal-hal yang lebih baik, lagipula manusia yang dicintai pasti MATI / PERGI.
- Jika hakikat pernikahan adalah karena IBADAH kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH itu KEKAL dan MAHA PEMBERI HIDUP kepada makhluk-NYA. Dan ALLAH mencintai hamba-NYA melebihi seorang ibu mencintai bayinya. Maka tak ada alasan apapun di dunia yang dapat meretakkan rumah tangga kecuali jika pasangan mendurhakai ALLAH.

with LOVE.....