Seringkali saya melihat seorang pemuda dengan sabar menyeberangkan
seorang tunanetra, tangannya erat menuntun agar terhindar dari
kecelakaan. Di lain tempat, pemuda lainnya memanfaatkan dua tangan
kuatnya untuk membantu seorang ibu menjinjing barang belanjaan. Bukan,
ia bukan kuli angkut di pasar yang biasa menjual tenaganya. Tapi ini
benar-benar seorang pemuda yang dengan ikhlas membantu tanpa pamrih.
Sementara itu, seorang gadis terlihat sopan mengobati luka seorang
pengendara motor yang terjatuh. Dari dalam mobilnya, ia mengambil kotak
obat, kemudian memberikan pertolongan pertama.
Cukupkah bagi saya hanya sebagai penonton dari aksi yang dilakukan
orang-orang itu? Tentu tidak. Dari hari ke hari semakin banyak
episode-episode kebaikan yang tak henti berlalu lalang di depan mata
ini, semakin terdorong diri ini untuk mengetahui motif apa yang membuat
mereka mau dan rela melakukan itu semua. Nampaknya agak nakal saya
ketika harus bertanya tentang 'motif' mereka, seolah saya meragukan
niat ikhlas mereka dan menggantinya dengan motif kacangan, seperti imbalan
materi, pamer kesalihan atau tebar pesona.
Tapi, tetap saja saya tergelitik untuk terus bertanya, dan maafkan
kalau saya memang terlalu lancang untuk menanyakannya. Bukan berarti selama
ini saya tak pernah menolong orang lain. Sebab katanya, orang Indonesia
itu sangat ramah dan saling tolong menolong. Tapi entah kenapa, saya
lagi-lagi harus bertanya tentang motif kebaikan yang dilakukan orang
lain. Aksi tanya menanya itu berhenti ketika seorang sahabat yang
menjadi 'korban' pertanyaan saya menjawabnya dengan kalimat tegas,
"Berhentilah bertanya, lakukan saja".
Kemudian saya pun tak lagi melulu menjadi penonton. Setiap kali ada
kesempatan untuk menolong tak terbuang sia-sia. Saya upayakan tak
terlewatkan dengan kalimat andalan, "maaf" atau berkilah sambil
berharap orang lain akan membantunya. Saya percaya betul, bahwa kesempatan
berbuat baik itu kadang tak datang dua kali. Sekali terlewati, sudah
itu tak ada lagi. Sekali kita buang kesempatan baik itu, esok tak bertemu
lagi. Tinggallah kita berharap Allah mau memberikan kesempatan kedua
agar kita bisa berbuat baik.
***
Seorang bapak berusia senja memeluk saya erat seolah tak ingin saya
pergi dari hadapannya. "Datanglah ke sini kapan pun, rumah kami selalu
terbuka untuk anda," ujarnya terbata-bata. Isterinya tak henti
menahan-nahan saya agar tetap tinggal, kalau perlu ia mempersilahkan
memilih satu dari beberapa cucunya yang mulai tumbuh dewasa untuk
dipersunting. Aih.
Di lain tempat, seorang ibu tak henti berucap terima kasih hanya karena
lima ribu rupiah yang saya berikan kepadanya. Ia mengaku kehabisan
ongkos untuk kembali ke rumah, sambil menangis ia meminta uang untuk
bisa sampai pulang.
Nampaknya saya tak perlu lagi bertanya kenapa begitu banyak orang mau
menolong sesama. Pertanyaan itu tak lagi menggelitik rasa penasaran
saya, dan telah terhenti. Tak perlu pula ada yang menjawab kenapa orang
tak bosan berbuat kebaikan untuk orang lainnya. Karena saya telah
menemukan sendiri jawaban itu. Ternyata, menolong itu nikmat. Bahkan
bisa dibilang pekerjaan paling nikmat yang pernah saya tahu, saya
kerjakan, dan coba saya jadikan kebiasaan dalam hidup.
Menolong tak selalu berupa materi, tak melulu berbentuk harta. Bisa
Jadi hanya sebuah doa yang tulus jika memang raga tak mampu, harta pun tak
ada. Jika waktu tak ada, namun ada sedikit rezeki, bisalah kita
membantu. Sungguh, berbuat kebaikan terhadap sesama, tak saja nikmat,
tapi juga sebuah investasi dunia akhirat. Percayalah.***
Wasallam,
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar