Kamis, 11 September 2008

Langkah Menuju Keberhasilan

Keberhasilan. Sebuah kata besar yang seringkali hanya berada dalam pikiran kita saja. Keberhasilan tampaknya masih merupakan kata besar yang mengandung kesulitan besar pula. Namun siapa sangka jika keberhasilan yang awalnya hanya berada dalam dunia maya itu bisa menjadi nyata?
Setiap orang di dunia ini pastilah ingin berhasil dalam hidupnya. Keberhasilan mempunyai batas yang relatif, tidak sama untuk semua orang. Keberhasilan menurut si A mungkin berbeda dalam pandangan si B. Keberhasilan yang dicapai oleh A mungkin dipandang sebagai hal yang belum berhasil menurut B. Begitulah kerelatifan dari keberhasilan. Hal ini terkait erat dengan cita-cita besar yang ingin dicapai dalam hidupnya.
Apakah menjadi sarjana merupakan keberhasilan? Ya, menurut sebagian orang. Tetapi menurut orang yang lain menjadi sarjana mungkin hanya sebuah langkah menuju keberhasilan. Mempunyai anak yang rajin dan patuh mungkin merupakan suatu keberhasilan bagi seorang ibu yang mengabdikan diri kepada keluarga untuk mendidik anaknya. Bagi orang lain, mungkin hal tersebut tidak berarti apa-apa. Singkat kata, inilah yang dimaksud bahwa keberhasilan merupakan hal yang relatif. Dan kita tidak bisa mengukur keberhasilan yang akan kita capai berdasarkan cita-cita orang lain.

Pernah suatu ketika seorang mahasiswaku curhat, menumpahkan semua keluhannya terutama tentang tugas kuliah yang menurutnya sangat berat. Saat itu sempat kutanya satu kalimat,
“Kamu ingin berhasil kan? Ingin lulus tepat waktu dengan hasil yang maksimal?”
Dia menjawab, “Tentu saja dong bu! Tapi bagaimana saya bisa berhasil jika tugas kuliah sebanyak ini?”
Sambil tersenyum dan memandang matanya, mulailah aku bercerita, “Kamu ingin menjadi arsitek yang baik kan? Semua tugas yang diberikan dosen itu tidak lain adalah salah satu cara untuk membuat kamu lebih mudah memahami materi. Saya tahu, pastilah kendala utama adalah waktu untuk mengerjakannya,”
Dia masih menyimak penjelasanku sampai setengah jam berikutnya. Aku tahu, pasti akan ada perdebatan panjang jika kuteruskan menjawab pertanyaannya. Aku hanya mencoba memahami permasalahan dan bersama-sama mencari solusi dari permasalahan yang sedang dialaminya. Kujelaskan perlahan, mulai dari mengapa dosen memberikan tugas kepadanya, apa tujuannya, sampai pada cerita tentang teman-teman yang berhasil dengan tugas yang sama. Akhirnya kami secara bersama-sama menemukan permasalahan inti yang sedang dihadapinya.
Permasalahan utamanya adalah memenej waktu dan pekerjaan. Hampir semua mahasiswa arsitek (termasuk aku ketika kuliah dahulu) mengalaminya. Tetapi ketika kita sudah sadar akan masalah utama yang menghadang keberhasilan, berarti kita sudah maju satu langkah. Setelah permasalahan ditemukan, langkah yang diambil adalah mencari solusi dari permasalahan tersebut. Solusi yang diambil bisa saja tepat atau tidak tepat. Karena itulah dibutuhkan strategi pemilihan solusi.
“Dulu waktu ibu kuliah, suka lembur-lembur sampai pagi juga nggak?” sebuah pertanyaan dilontarkan padaku ketika kami sedang membahas solusi penyelesaian tugas tersebut.
“Tahun-tahun awal kuliah, ya. Saya lembur. Sangat sering sampai adzan subuh berkumandang. Tetapi lama kelamaan tidak lagi. Karena sebenarnya ketika kita maksimalkan waktu yang ada, kita tidak perlu lembur lagi kok,” begitu jawabku saat itu.
Mereka memandangku tidak percaya. Aku yakin, pastilah mereka sempat memikirkan apa yang dahulu kupikirkan. Bagaimana caranya supaya pekerjaan selesai tepat waktu tanpa lembur sampai pagi?
Kujelaskan trik yang kulakukan saat kuliah dahulu. Pertama, ketika dosen memberikan tugas, baik paper atau gambar, langsung saja cari di perpustakaan buku atau pustaka yang mendukung. Apabila ada uang, fotokopi bagian yang penting. Jika tidak ada, catat dan ingat-ingat dengan baik. Kemudian, mulailah kerjakan satu demi satu tugas tersebut. Jangan menunggu ketika deadline sudah dekat. Kerjakan secara perlahan-lahan dengan memperhatikan waktu di sela-sela kuliah yang ada. Kerjakan tugas di mana saja, di perpustakaan atau di studio.
Kemudian, rajin-rajinlah asistensi dengan dosen/asisten. Karena saat asistensi itulah banyak ilmu yang bisa kita ambil. Jangan takut jika ternyata pekerjaan kita salah. Bukankah dengan mengetahui pekerjaan kita salah di awal berarti kita sudah maju satu langkah lagi? Bayangkan saja jika kita tahu pekerjaan kita salah pada saat beberapa hari menjelang deadline. Tentu saja kita tidak akan bisa mengerjakannya dengan tenang.
Untuk bisa sering-sering asistensi, tentu saja kita harus mengerjakan pekerjaan kita dengan rutin. Dan satu hal yang harus dicatat jika kita ingin meraih keberhasilan, jangan menunggu mood itu datang, tetapi usahakanlah mood itu selalu datang. Jangan tunda pekerjaan hanya karena saat itu kita sedang tidak mood. Lebih baik mengerjakannya dengan perlahan tetapi kontinu daripada terburu-buru dalam waktu yang singkat. Hal yang tidak boleh ditinggal dan harus selalu diingat adalah tetap berdoa minta pertolongan pada Allah dan juga menjaga kesehatan badan.
Perencanaan juga merupakan hal penting yang mendukung keberhasilan kita. Perencanaan yang matang memang bukan penentu keberhasilan, tetapi merupakan sebuah langkah untuk mempermudah terwujudnya keberhasilan. Dan jangan takut gagal ketika ingin berhasil. Mungkin saja kegagalan itu merupakan suatu tahapan yang harus kita lalui untuk mencapai keberhasilan.
Nah, apabila semua langkah tersebut sudah dilakukan, maka kita hanya bisa melakukan satu hal. Pasrah, tawakkal. Serahkan semua kepada Allah. Karena hanya Dia-lah yang paling tahu apa hal terbaik yang terjadi pada diri kita. Apapun yang akan kita dapat nantinya sebagai hasil dari pekerjaan kita, harus kita terima dengan hati lapang. yang penting kita sudah usahakan secara maksimal. Masalah hasil akhir adalah urusan Allah.
Kalaupun hasilnya ternyata masih belum memuaskan menurut kita, jangan menyesal, tetap terima hasil itu karena kita sudah berusaha maka itu hal terbaik yang pantas kita terima dan mungkin memang baru seukuran itu kemampuan kita. Sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Dan sesuatu yang menurut kita tidak baik, belum tentu tidak baik juga menurut Allah.
Tetapi jangan lupa untuk introspeksi diri, apakah keberhasilan yang ingin kita raih itu berada dalam batas kemampuan kita dan usaha kita sudah mengarah ke sana? Jangan-jangan kita hanya ingin berhasil tapi kita tidak berusaha secara maksimal? Ibaratnya secara realistis jika ingin menjadi pengusaha, kita harus memulai dari bawah dengan usaha yang tidak minim. Apakah menjadi pengusaha bisa terwujud begitu saja dengan ongkang-ongkang kaki? Tentu saja tidak.
Bukankah sebenarnya kita bisa dengan mudah meraih keberhasilan itu? Keberhasilan merupakan kombinasi dari dua aspek, usaha dan doa. Usaha dan doa disertai dengan perencanaan matang dan semangat tinggi insyaAllah bisa mengantarkan kita menuju keberhasilan yang ingin kita raih. Dan kalaupun dengan cara tersebut kita belum berhasil, yakinlah itu yang terbaik untuk kita. Bangkit, berusaha dan berdoalah lagi. Karena selama kita masih hidup, berarti masih ada kemungkinan untuk meraih keberhasilan tersebut.
Jakarta, akhir mei 2005
Anisa Kuffa

" Menolong? ... Knapa ngga... Siapa Takut.. "

Seringkali saya melihat seorang pemuda dengan sabar menyeberangkan
seorang tunanetra, tangannya erat menuntun agar terhindar dari
kecelakaan. Di lain tempat, pemuda lainnya memanfaatkan dua tangan
kuatnya untuk membantu seorang ibu menjinjing barang belanjaan. Bukan,
ia bukan kuli angkut di pasar yang biasa menjual tenaganya. Tapi ini
benar-benar seorang pemuda yang dengan ikhlas membantu tanpa pamrih.
Sementara itu, seorang gadis terlihat sopan mengobati luka seorang
pengendara motor yang terjatuh. Dari dalam mobilnya, ia mengambil kotak
obat, kemudian memberikan pertolongan pertama.

Cukupkah bagi saya hanya sebagai penonton dari aksi yang dilakukan
orang-orang itu? Tentu tidak. Dari hari ke hari semakin banyak
episode-episode kebaikan yang tak henti berlalu lalang di depan mata
ini, semakin terdorong diri ini untuk mengetahui motif apa yang membuat
mereka mau dan rela melakukan itu semua. Nampaknya agak nakal saya
ketika harus bertanya tentang 'motif' mereka, seolah saya meragukan
niat ikhlas mereka dan menggantinya dengan motif kacangan, seperti imbalan
materi, pamer kesalihan atau tebar pesona.

Tapi, tetap saja saya tergelitik untuk terus bertanya, dan maafkan
kalau saya memang terlalu lancang untuk menanyakannya. Bukan berarti selama
ini saya tak pernah menolong orang lain. Sebab katanya, orang Indonesia
itu sangat ramah dan saling tolong menolong. Tapi entah kenapa, saya
lagi-lagi harus bertanya tentang motif kebaikan yang dilakukan orang
lain. Aksi tanya menanya itu berhenti ketika seorang sahabat yang
menjadi 'korban' pertanyaan saya menjawabnya dengan kalimat tegas,
"Berhentilah bertanya, lakukan saja".

Kemudian saya pun tak lagi melulu menjadi penonton. Setiap kali ada
kesempatan untuk menolong tak terbuang sia-sia. Saya upayakan tak
terlewatkan dengan kalimat andalan, "maaf" atau berkilah sambil
berharap orang lain akan membantunya. Saya percaya betul, bahwa kesempatan
berbuat baik itu kadang tak datang dua kali. Sekali terlewati, sudah
itu tak ada lagi. Sekali kita buang kesempatan baik itu, esok tak bertemu
lagi. Tinggallah kita berharap Allah mau memberikan kesempatan kedua
agar kita bisa berbuat baik.

***

Seorang bapak berusia senja memeluk saya erat seolah tak ingin saya
pergi dari hadapannya. "Datanglah ke sini kapan pun, rumah kami selalu
terbuka untuk anda," ujarnya terbata-bata. Isterinya tak henti
menahan-nahan saya agar tetap tinggal, kalau perlu ia mempersilahkan
memilih satu dari beberapa cucunya yang mulai tumbuh dewasa untuk
dipersunting. Aih.

Di lain tempat, seorang ibu tak henti berucap terima kasih hanya karena
lima ribu rupiah yang saya berikan kepadanya. Ia mengaku kehabisan
ongkos untuk kembali ke rumah, sambil menangis ia meminta uang untuk
bisa sampai pulang.

Nampaknya saya tak perlu lagi bertanya kenapa begitu banyak orang mau
menolong sesama. Pertanyaan itu tak lagi menggelitik rasa penasaran
saya, dan telah terhenti. Tak perlu pula ada yang menjawab kenapa orang
tak bosan berbuat kebaikan untuk orang lainnya. Karena saya telah
menemukan sendiri jawaban itu. Ternyata, menolong itu nikmat. Bahkan
bisa dibilang pekerjaan paling nikmat yang pernah saya tahu, saya
kerjakan, dan coba saya jadikan kebiasaan dalam hidup.

Menolong tak selalu berupa materi, tak melulu berbentuk harta. Bisa
Jadi hanya sebuah doa yang tulus jika memang raga tak mampu, harta pun tak
ada. Jika waktu tak ada, namun ada sedikit rezeki, bisalah kita
membantu. Sungguh, berbuat kebaikan terhadap sesama, tak saja nikmat,
tapi juga sebuah investasi dunia akhirat. Percayalah.***

Wasallam,

AGAR CINTA BERSEMI INDAH

Ada banyak alasan manusia yang membuat dasar dari hakikat pernikahan, hakikat yang seperti apakah yang paling membahagiakan? coba kita lihat...dan manakah pilihan kita???
- Jika hakikat pernikahan adalah karena SEX, maka pasangan rajin bertengkar jika servis di kamar tidur tidak memuaskan. Atau rajin hadir di SEX party.
- Jika hakikat pernikahan adalah karena HARTA, maka pasangan bakal bubar jika bangkrut.
- Jika hakikat pernikahan adalah karena BEAUTY/BODY, pasangan bakal lari jika rambut beruban dan muka keriput atau badan jadi gendut.
- Jika hakikat pernikahan adalah karena ANAK, maka pasangan akan cari alasan untuk pergi jika buah hati (anak) tidak hadir.
- Jika hakikat pernikahan adalah karena KEPRIBADIAN, pasangan akan lari jika orang berubah tingkah lakunya.
- Jika hakikat pernikahan adalah karena CINTA, hati manusia itu tidak tetap dan mudah terpikat pada hal-hal yang lebih baik, lagipula manusia yang dicintai pasti MATI / PERGI.
- Jika hakikat pernikahan adalah karena IBADAH kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH itu KEKAL dan MAHA PEMBERI HIDUP kepada makhluk-NYA. Dan ALLAH mencintai hamba-NYA melebihi seorang ibu mencintai bayinya. Maka tak ada alasan apapun di dunia yang dapat meretakkan rumah tangga kecuali jika pasangan mendurhakai ALLAH.

with LOVE.....